Senin, 08 Februari 2021

Relawan Muda Dari Spanda

Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi (8)

Bab. 8

Relawan Muda dari Spanda




    Kisah yang satu ini tak ada hubungannya dengan PJJ. Ide menulis muncul dari kiprah seorang guru muda Spanda (sebutan untuk sekolah kami, SMPN 2 Subang). Namanya Pak Sahlim. Seorang guru honorer pengajar Bahasa Inggris yang telah dengan berani menjadi relawan dalam membantu korban banjir di daerah Pamanukan, Subang. 



    Seperti yang ramai berseliweran di medsos, kabar duka datang dari Subang, Jawa Barat. Bencana berawal setelah turunnya hujan yang berkepanjangan dari hari Minggu pagi hingga saat ini. Curah hujan yang tinggi dan tak berhenti menyebabkan terjadinya bencana banjir dan longsor di beberapa wilayah Subang. Salah satunya di wilayah Pamanukan. Lokasi ini telah menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Namun, tahun ini tampaknya lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Banjir disebabkan oleh meluapnya sungai Cipunagara dan merendam  jalan raya, pertokoan, pemukiman, hingga pesawahan.



    Petugas evakuasi berusaha membantu warga dengan memasang tali untuk mempermudah prosesnya. Dari video yang viral di banyak  grup WA yang saya punya, telah memperlihatkan perjuangan warga dan petugas untuk menghindari banjir yang cukup besar. Disebutkan pula, hampir terdapat sejumlah warga yang hampir hanyut terbawa derasnya air. Untunglah, petugas dengan sikap berhasil mengantar mereka ke tempat pengungsian. 



    Di antara petugas dan relawan yang membantu proses evakuasi, ada rekan muda kami yaitu Pak Sahlim. Tanpa rasa takut, ia berani memutuskan untuk bergabung dalam gerakan sukarelawan membantu petugas evakuasi. "Banjir kali ini lebih mengerikan. Biasanya di bawah fly over hanya selutut sekarang sudah sepinggang. Di jalan area pasar tahun lalu sedada, sekarang tidak bisa akses sama sekali. Mungkin sudah melebihi atas kepala. Proses evakuasi sangat sulit karena jumlah perahu yang minim." Demikian tulisnya di grup WA sekolah kami. Lalu ditutup dengan tagar #LekasMembaikSubangku.



    Sebagai warga Spanda, saya dan rekan-rekan yang lain turut bangga dengan tindakannya. Sebagai anak muda, telah banyak mendedikasikan dirinya untuk membantu orang yang butuh bantuan. Perlu diketahui, beliau adalah pembimbing pramuka di sekolah kami. Telah banyak prestasi yang ia dan timnya peroleh, baik di tingkat kabupaten, propinsi, atau bahkan nasional. 

    Semoga, apa yang Pak Sahlim lakukan dapat menginspirasi pemuda yang lainnya untuk bergabung menolong warga yang terdampak bencana banjir. Dan semoga, banjir akan segera surut. Hujan tak lagi sederas hari-hari kemarin. Walaupun BMKG memprediksi 3 hari ke depan curah hujan akan terus seperti sekarang. Semangat Pak Sahlim dan teman-teman! Malaikat akan mencatat jasa kalian sebagai amal kebaikan. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga Subang kembali membaik, begitu juga wilayah-wilayah lain di negara ini yang terdampak bencana. 

Salam blogger persahabatan..

By: Tuti Suryati, S.Pd

SMPN 2 Subang








Minggu, 07 Februari 2021

Akmal Ingin Berhenti Sekolah

Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi (7)

Bab.7

Akmal Ingin Berhenti Sekolah

    Untuk kedua kalinya, saya kembali kehilangan Akmal. Terakhir kali bertemu di ruang TU ketika dia dan kakeknya mengurus pencairan bantuan pemerintah untuk siswa kurang mampu. Awalnya saya mengira, setelah membeli hape, Akmal akan aktif mengikuti pembelajaran online. Namun nyatanya, dia hanya mengikuti 1 kali saja. Selanjutnya, nyaris tak terdengar lagi kabar beritanya. Hal ini kembali mengusik perhatian saya dan Bu Lyta, guru BK kelas IX.

    Ingin mengetahui kondisi Akmal yang sebenarnya, kami bersepakat untuk mengadakan home visit ke rumahnya. Kebetulan rumahnya tak jauh dari sekolah. Hanya berjarak sekitar 1 km saja. Tak akan memakan waktu lama. Dengan Si Kukut Beat warna oranye, saya membonceng Bu Lyta ke lokasi.

     Sesampainya di tempat yang kami tuju, saya menyimpan sepeda motor di dekat lapang volley sebelah rumahnya. Rumah yang dicari tak terlalu sulit untuk ditemukan. Sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda yang sudah lama kosong. Bangunan ini bisa mereka tempati setelah pemda setempat menghibahkannya. Kakeknya dulu pernah bekerja sebagai pegawai di lingkungan pemda, sehingga layak untuk mendiaminya. Di siang hari tempat ini tak kelihatan menyeramkan. Berbeda dengan suasana di malam hari. Telah banyak cerita dari mulut ke mulut tentang seramnya kawasan ini. Tapi untuk Akmal dan keluarganya, keseraman itu tak berlaku. Dengan menghuninya saja mereka sudah bersyukur. 

    Sebelum masuk ke rumahnya, kami melihat adiknya sedang bermain layangan dengan teman-temannya. Bu Lyta lalu memanggilnya dan menanyakan Akmal, kakaknya. Ternyata yang kami cari kan berada tak jauh dari tempatnya bermain. Saya panggil Akmal segera. Untungnya, dia mengenali kami. Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam rumahnya. Sebagai rumah tinggal, kami anggap cukup layak untuk dihuni. Ada ruang tamu dengan kursi sofa yang sudah usang. Lantai yang hanya disemen. Di tengah rumah, ada meja kecil tempat menyimpan televisi sebagai sumber hiburan. Dan lurus ke belakangnya, adalah dapur dengan kayu triplek sebagai pembatasnya. Entah di mana kamar tidurnya. Kami tak perlu mencarinya. Yang kami butuhkan adalah alasan Akmal menghilang lagi. 

    Dalam percakapan kami, kakeknya menyebutkan bahwa ibu Akmal telah lama meninggal dunia karena suatu penyakit. Sedangkan ayahnya yang seorang tukang becak, telah meninggalkan anak-anaknya entah kemana. Tak lagi ingat tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Sepeninggal istrinya, sang ayah menjadi seorang pemabuk berat. Mungkin karena tak bisa menerima kenyataan dan takdir yang Allah berikan. Dan sekarang tak tahu di mana rimbanya. Tinggallah Akmal dan adik lelakinya yang duduk di kelas 6 SD, bersama kakek neneknya yang setia mengurus mereka.

    Pertanyaan inti kami utarakan kepada Akmal. Kenapa dia tidak pernah mengikuti pembelajaran lagi. Setelah diam beberapa menit, akhirnya Akmal mau membuka mulut. "Saya ngga mau sekolah lagi, Bu," katanya. Saya dan Bu Lyta agak terkejut mendengar pernyataannya. Inilah yang mengkhawatirkan kami. Dan ini pula yang paling Mas Menteri Nadiem Makarim takutkan dari pelaksanaan PJJ.  Ketakutan adanya lost generation alias siswa putus sekolah. Padahal pendidikan adalah hak seluruh anak Indonesia. bagaimanapun kondisinya. Jangan sampai ada siswa yang tidak mendapatkan hak layanan pendidikan yang layak gara-gara pandemi. Dan sekatang, kami sedang menghadapi kemungkian itu. Bagaimapun caranya, Akmal harus dapat kami ajak kembali untuk belajar. 

    Ketika kami menanyakan keberadaan hapenya yang dulu ia beli, Akmal mengatakan bahwa hapenya telah rusak. Hape itu dia dapatkan dari pamannya. Dan dia tidak mengetahui, apakah hape itu barang baru atau seken  Kenyataannya, hape itu sekarang telah rusak dan tak bisa dia pakai lagi. Kasian sekali dia..

    Sebagai jalan keluarnya, kami tawarkan dia untuk menggunakan modul yang tersedia di sekolah. Akmal dapat belajar lewat modul dan mengerjakan tugas-tugasnya di kertas selembar. Setelah itu, dia harus mengumpulkannya ke guru mata pelajaran. Sebisa mungkin, Akmal jangan sampai putus sekolah. Apalagi sekarang sudah kelas IX, sebentar lagi ujian kelulusan. Sayang jika harus berhenti di tengah jalan. Sementara tuntutan kerja zaman sekarang mengutamakan lulusan SMA atau SMK.

    Akhirnya, sekali lagi kami dapat membujuknya untuk kembali belajar. Setidaknya, hingga dia lulus SMP. Tetap semangat, Akmal. Kami akan selalu bersamamu. Tak lupa kami memintanya untuk meninggalkan kebiasaan bermain di malam hari dengan gengsternya. Dan menasehatinya untuk rajin sholat dan berdoa kepada Allah. Jangan berputus asa, Akmal. Insya Allah, masa depan cerah menantimu. Asalkan kamu mau mendengarkan nasehat kami.  

Sampai jumpa lagi..

Salam kebersamaan..

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMPN 2 Subang




Sabtu, 06 Februari 2021

Pelajaran Berharga Buat Marisa

Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi (6)

Bab. 6

Pelajaran Berharga Untuk Marisa 

    Sudah 3 kali pertemuan Marisa tidak pernah meninggalkan jejak kehadirannya di agenda saya. Telah lama pula saya tidak melihat sosoknya datang ke sekolah menyerahkan tugas-tugas luring. Sebagai guru dan wali kelasnya, saya harus mencari tahu alasannya. Dan akhirnya, kesempatan bertemu langsung dengannya pun terlaksana. Atas kehendak Allah, Marisa datang menyerahkan tugas luringnya ke hadapan saya. Tentunya, saya tak mau melewatkan momen berharga ini. Akan saya tanyakan mengapa dia jarang sekali mengikuti pembelajaran. 

    Mengenakan gamis hitam dan kerudung panjang berwarna abu-abu, plus cadar hitam pula menutupi wajahnya. Hanya kedua matanya saja yang tampak jernih. Ciri khas mata remaja putih biru. Mata yang masih sehat dan cemerlang. Jauh berbeda dengan mata seorang perempuan berumur 40an ke atas seperti saya yang sudah banyak terkontaminasi. Tubuhnya mungil dan putih kulitnya. Walaupun tertutup cadar, saya dapat melihat kecantikan wajahnya. Wajah remaja yang manis. Dengan penampilannya yang bergamis dan bercadar, membuat saya berkata dalam hati, alangkah solehahnya anak ini. Seumuran dia sudah mau menutup auratnya rapat-rapat, sementara di luar sana masih banyak anak ABG yang berani memamerkan keindahan tubuhnya.

    Saya sambut dia dengan salam. Lalu mempersilakannya duduk di sebelah saya. Seorang temannya yang menemani, saya suruh pergi sebentar, membiarkan kami berbincang berdua tentang urusan yang harus diselesaikan. "Halo, Marisa. Gimana kabarnya nih. Sudah lama ya kita ga ketemu." Kata saya memulai percakapan. Marisa menjawab dengan suara pelan dan malu-malu. "Alhamdulillah, baik, Bu." Lalu saya bertanya lagi, "Marisa tinggal di mana?" Marisa menjawab, "Di kompleks Bumi Persada, Bu," sahutnya. Saya tahu lokasinya. Tak jauh dari sekolah ini. Basa-basi masih terus berlanjut. Hingga tibalah pada topik utama. Agak hati-hati saya mencoba menanyakannya. Tipe anak seperti dia sepertinya harus dihadapi dengan kelembutan.

    "O, ya..kayanya Ibu ngga pernah melihat kehadiranmu di setiap PJJ. Sudah tiga kali pertemuan kalo ngga salah. Kenapa say?" tanya saya kemudian. Wajahnya yang sedari tadi selalu menunduk, tiba-tiba terangkat dan menatap saya. Kelihatannya Marisa terkejut dengan pertanyaan saya. "Saya suka ikut kok, Bu." Apa? Ketenangan hati saya terusik mendengar ucapannya. Kenapa Marisa bicara seperti itu? Apakah dia tidak menyadari kalau saya punya bukti yang kuat tentang ketidakhadirannya. Kenapa dia bersikap seolah tak bersalah? Saya mencoba tenang menghadapinya. Sabaaar...Lalu, saya berkata lagi padanya, "Masa sih? Tapi di dalam daftar hadir Ibu masih banyak yang kosong." Matanya terlihat semakin kuat menatap saya. Tapi tak lama. Wajahnya seketika tertunduk kembali. Saya teruskan lagi wawancaranya. "Ulangan harian kamu juga masih belum ada nilai satupun. Hayoo..kemana aja nih?" Reaksi Marisa berikutnya sangat mengagetkan saya. Tiba-tiba dia meneteskan air mata. Entah apa maknanya.

    Dengan sikapnya yang seperti itu, membuat saya semakin penasaran. Kenapa dia harus menangis? Ada apa dengan Marisa? Untuk mengetahuinya, saya bertanya lagi, "Aduh, kenapa kamu menangis, Marisa? Ada yang salahkah? Atau mungkin kamu punya masalah ya?" Selang beberapa menit kemudian dia berkata, "Maaf, Bu. Sebenarnya saya ngga ngerti cara belajar daring. Saya ngga tau caranya gabung ke Classroom. Saya juga ngga tau ada ulangan harian." Hmm..sepertinya dia mencoba membela diri.

     "Kan Ibu selalu share info-info penting yang menyangkut pembelajaran. Kamu sudah ada di grup, kan?" Lama-lama gatal juga nih tangan, pengen nyubit.."Iya, Bu..Tapi saya jarang baca grup, Bu. Makanya suka ketinggalan informasi." Salah sendiri lah..."Kenapa atuh, terus kalau ngga baca grup kelas, gimana kamu dapat informasi?" tanyaku selanjutnya. "Saya sering bertanya sama KM di WA tapi suka ngga dibales, Bu." Semakin saya mendengar kata-katanya, malah tambah tidak percaya. "O, gitu ya? Padahal Ibu sudah menyuruh Fahri untuk meneruskan informasi ke siswa yang belum mengetahui. Jadi Fahri ngga memberitahu kamu sama sekali?" tanya saya seperti seorang penyelidik. "Ngga, Bu.." jawabnya. "Ya sudah cukup. Nanti ibu tanya ke Fahri ya." Setelah itu, Marisa pun beranjak kembali ke temannya.

    Untung Fahri saat itu masih berada di sekolah. Setelah mengumpulkan tugas, Fahri bergegas akan pulang ke rumah. Segera saya memanggilnya untuk mengkonfirmasi pernyataan Marisa. Tak lama, Fahri sudah berada di depan saya. "Ya, Bu. Ada apa?" tanya Fahri. "Begini, tadi Ibu ngobrol sama Marisa. Kan dia sering ngga ikut daring tuh. Katanya karena ngga dapat informasi dari kamu. Betul begitu, Fahri?" Saya lihat Fahri mengernyitkan keningnya. "Ah, ngga, Bu. Saya sering menjapri dia dan ngeshare info-info dari Ibu atau dari mapel yang lainnya. Kalau Ibu ngga percaya, nih Fahri masih punya buktinya," jawabnya sambil lalu membuka gadgetnya dan memperlihatkan isi chat-chat japrinya dengan Marisa. Dan benar saja, Fahri sudah memberikan tiap informasi kepada Marisa. Lalu kenapa Marisa berbohong seperti itu? Saya harus menyelidikinya lebih lanjut. Serasa tak percaya, tapi nyata adanya.

    Sebulan kemudian, saya bertemu kembali dengan Marisa. Namun kini dia datang tidak sendiri. Ada seorang wanita bertubuh mungil dan berambut hitam pendek yang menemaninya. Mengenakan kemeja biru lengan pendek dipadu dengan rok span hitam yang panjangnya di bawah lutut. Setelan bajunya mengingatkan saya pada guru-guru jaman dahulu. Setelah berkenalan barulah saya mengetahui kalau wanita itu adalah ibunya. Kebetulan sekali..Pucuk dicinta ulam tiba. Inilah saatnya saya mengetahui lebih lanjut tentang ketidakwajaran sikap Marisa.

    Saya mempersilakan mereka memasuki ruangan kelas yang sudah lama kosong. Tak terpakai semenjak penerapan PJJ. Sebisa mungkin jangan ada orang lain yang mengetahui atau mendengar percakapan kami. Setelah pintu saya tutup, barulah saya mengajak mereka berbicara. Awalnya saya menanyakan alasan kenapa Marisa sering tidak mengikuti PJJ. Dengan lantang ibunya menegaskan bahwa anaknya tidak mengetahui cara belajar daring. Dan bahwa Marisa tidak mendapatkan informasi sama sekali baik dari saya ataupun dari ketua kelas. Aduh ibuu..dikau belum tahu ya yang sebenarnya. 

    Hampir saja saya bertengkar dengan ibunya. Sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah, perasaan saya sudah tak menentu. Ada sesuatu yang menyebabkan emosi saya tak karuan. Biasa, masalah keluarga. Dan sekarang, di sekolah ini, saya mendapatkan masalah lagi. Menghadapi seorang ibu yang berusaha membela anaknya mati-matian. Ibunya yang menganggap anaknya tak bersalah. Bahwa anaknya bukanlah seorang pembohong. Dari kecil hingga sekarang, dia tidak mendidik anaknya untuk berbohong. Berkali-kali saya mengucap istigfar dalam hati. Memohon petunujuk pada Allah untuk menghadapinya.

    Sesaat kemudian saya mengalihkan pandangan kepada Marisa, yang sedari awal pembicaraan belum mengeluarkan sepatah katapun. Hanya diam membisu menyaksikan kami yang memperdebatkan kebenaran tentang dia. Saya tatap dia dengan tajam lalu berkata kepada ibunya, "Sebentar, Bunda..saya ingin bicara dengan anak bunda dulu ya." Disambut dengan ucapan ibunya, "Ngga usah, Bu. anak saya ngga salah. Yang salah itu KM nya. Kenapa ngga pernah ngasih info ke Marisa." Duh, keukeuh pisan nya.."Iya, Bunda, sebentar ya. Saya akan panggil Fahri ke sini. Supaya Bunda mendapatkan buktinya dari Fahri." Agak susah juga mencari Fahri dalam keadaan emosi seperti ini. Alhamdulillah, tak berapa lama, Fahri akhirnya dapat saya temukan. Sebelum memperlihatkan bukti chatnya kepada ibu Marisa, Fahri sempat terlebih dahulu ia omeli. Saya berusaha menenangkan sang ibu.

    Selanjutnya, saya mempersilakan Fahri pulang. Lalu saya memalingkan muka kembali kepada Marisa. "Marisa, kenapa kamu diam saja? Coba jelaskan pada ibumu yang sebenarnya," kata saya kepada Marisa. Tak memperdulikan ibunya yang masih emosi. Marisa terus terdiam. Tak bisa dan tak mau menjawab. Lalu saya berkata lagi, "Kenapa kamu diam saja, Marisa. Tau ngga, diammu itu sudah menunjukkan kebenaran bahwa kamu sudah berbohong pada kami." Emosi saya rasanya teraduk-aduk.

    Situasi masih diliputi kekesalan kami berdua menghadapi sikap Marisa. "Ibu ngga butuh jawaban Marisa sekarang. Ibu tahu yang ada dalam hatimu. Makanya sekarang kamu ngga bisa berkata apa-apa. Ibu yakin hatimu pasti akan mengutarakan kebenarannya. Karena hati ngga pernah bohong." Jleb..mereka berdua terdiam setelah saya mengucapkan kalimat sakti seperti itu. Tak disangka, keajaiban terjadi. Ibunya yang semula meledak-ledak membela putrinya, sekarang menunduk malu dan kemudian meminta maaf pada saya. Subhanallah, tabarakallah..Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberiku petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini. 

    Di akhir perbincangan, dengan mata berkaca-kaca, ibu Marisa bercerita bahwa dirinya adalah seorang single parent yang bekerja di luar kota dalam waktu yang lama. Sehingga ia tak bisa sepenuhnya menemani putri tersayangnya belajar. Tugas itu ia serahkan kepada ibunya atau nenek Marisa yang tinggal di kota ini. Saya pun berusaha mengerti kesulitan yang dihadapinya dan meyakinkan dirinya bahwa sebenarnya Marisa adalah anak yang baik dan pintar. Setelah masalah pelik kami terselesaikan, mereka berdua pun mohon pamit kepada saya. Dalam hati saya berdoa. semoga ibunya tidak akan memarahi Marisa ketika sudah berada di rumah nanti. Dan semoga Marisa tidak akan berbohong lagi.  

Sampai jumpa di kisah selanjutnya...

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMPN 2 Subang








    

Jumat, 05 Februari 2021

Galaunya Justin

 Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi (5)

Bab. 5

Galaunya Justin..

    Saya mengenalnya waktu mengajar di kelas VIII. Kala itu saya mendapat tugas mengajar di kelas unggulan yaitu VIII D dan E. Semua siswa di dua kelas ini adalah wajah-wajah baru buat saya. Saya belum mengenal mereka karena belum pernah mengajar di kelas VII. Hari pertama saya mengajar di kelas VIII D, terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menghadapi sekumpulan siswa yang berprestasi dalam raportnya, menambah semangat di hati untuk memberikan yang terbaik. Dengan penuh percaya diri, saya menyapa mereka. Respon pun keluar. Suara lantang menyambut sapaan saya. Tampaknya mereka senang melihat kedatangan saya. Kelihatan sekali bara semangat mereka untuk belajar. Saya merasa semakin tertantang.

    Pembelajaran berjalan dengan mulus. Siswa sangat berapi-api dalam melaksanakan kegiatan dari awal hingga akhir. Saya sangat senang melihatnya. Kesan pertama sudah menggoda. Tinggal menjaga kelanjutannya agar tidak melemah di tengah jalan. Semoga saya akan menjadi guru yang mereka rindukan..

    Pada pembelajaran berikutnya, saya sudah cukup mengenal setiap siswa di kelas ini. Salah satunya adalah Justin. Berperawakan mungil, rambut pendek agak keriting dan kulit sawo matang. Tipikal Ambon manise. Ayahnya yang berasal dari Ambon telah mewariskan gen itu. Tapi memang manis lho senyumnya. Dari semua siswa di kelas ini, Justin termasuk yang sangat perhatian pada pelajaran saya. Sepertinya dia sangat senang belajar Bahasa Inggris. Terbukti dengan aktifnya dia bertanya jika ada yang belum dia mengerti. Pun jika ada kesalahan dalam menjawab pertanyaan, kelihatan sangat takut dan khawatir. Saya selalu memotivasinya supaya tidak takut untuk menjawab salah. Begitu juga kepada siswa yang lainnya. Lebih baik salah menjawab di saat belajar daripada salah ketika mengerjakan soal ulangan.

    Suatu hari, ketika saya sedang mengajar, suasana kelas agak ribut. Terasa ada sesuatu yang telah terjadi. Saat saya memperhatikan siswa satu per satu, nampak wajah Justin agak mendung. Seakan ada gundah yang disembunyikan. Kondisi ini sangat mengganggu kegiatan pembelajaran. Langsung saya tanya kepada siswa apa yang terjadi. Awalnya mereka ragu-ragu untuk mengatakannya. Setelah saya tanya berkali-kali, akhirnya mereka mau buka suara. "Itu, Bu..Justin kehilangan HP nya," sahut seorang temannya. Justin kelihatan malu-malu. Mungkin dia malu karena ketahuan membawa HP ke sekolah. Padahal pihak sekolah telah melarangnya. Tapi, saat ini yang terpenting adalah mendapatkan HP Justin kembali. Soal pelanggaran aturan, akan diurus setelah kami menemukan barangnya..

    Tak berapa lama, tiba-tiba datang seorang lelaki berseragam TNI. Tubuhnya tinggi dan memiliki senyum manis yang mengingatkan saya pada Justin. Dan memang, lelaki itu adalah ayah Justin. Dia sengaja datang ke sekolah untuk mengurus kasus hilangnya HP Justin. Ternyata, selidik punya selidik, teman-temannya telah menyembunyikannya. Dengan alasan supaya orang lain tahu bahwa Justin membawa HP ke sekolah. Hmm..dasar anak-anak. Akhirnya, mereka menyerahkan kembali HP yang hilang kepada Justin dan tak lupa meminta maaf padanya. Begitu juga dengan Justin dan ayahnya, ikut meminta maaf juga, terutama kepada saya gurunya. Justin berjanji tidak akan mengulanginya lagi. 

    Itulah kenangan saya dengannya saat duduk di kelas VIII. Ketika pandemi belum terjadi. Saat ini, Justin berada di kelas yang saya wali kelasi. Dari setiap obrolan kami di WA, dia menyatakan kegembiraannya dapat bergabung di kelas saya. Terlebih lagi, karena yang mengajar Bahasa Inggris masih tetap guru favoritnya, hehe..

    Justin masih tetap seorang siswa yang manis, penurut, aktif, dan selalu galau akan nilai-nilai raportnya. Dengan kondisi orang tua yang berkecukupan, membuatnya tak mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran online. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan teman-temannya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Di setiap japri saya selalu menasehatinya untuk senantiasa bersyukur atas apa yang sekarang dinikmatinya. Kedua orang tuanya sangat mendukung kemajuannya dalam belajar. 

    Sebagai anak lelaki tertua di keluarganya, sudah sewajarnya jika orang tuanya ingin anaknya kelak menjadi orang yang sukses. Pada mulanya, sang ibu menginginkan anaknya kelak menjadi seorang dokter. Namun, entah mengapa kemudian berubah pikiran ingin agar Justin nanti masuk Akmil saja. Mungkin karena dari ayahnya yang seorang anggota TNI, ia melihat contoh sosok yang gagah berani dalam menghadapi segala rintangan. 

    Di setiap ulangan harian, Justin selalu menanyakan hasilnya. Tak ingin jika hasilnya kurang bagus atau harus mengulang. Begitu juga saat menunggu hasil Penilaian Tengah Semester tahun lalu, dia kelihatan gelisah sekali. Berkali-kali menghubungi saya lewat WA pribadi menanyakan nilai setiap mata pelajaran. Saya jadi agak khawatir dengan sikapnya ini. Ada sedikit kecemasan dalam hati jikalau sikapnya disebabkan tuntutan orang tuanya yang ingin anaknya selalu menjadi yang terbaik. Semoga saja tidak seperti itu. Saya melihat kemampuan akademik Justin sangat bagus. Posisinya yang berada di urutan ketiga di tengah semester telah membuktikan hal itu. Walaupun sebenarnya posisi itu belum dapat memuaskannya. Keinginan untuk berada di urutan teratas selalu menghantui perasaannya. Tenang Justin, jangan patah semangat. Masih ada waktu untuk mewujudkannya.

    Kegalauan kembali melanda hatinya ketika memasuki Penilaian Akhir Semester. Dengan hati berdebar dia menunggu hasilnya. WA pribadi kembali ramai oleh pertanyaannya. "Bu, Justin nilainya gimana? Bu, nanti Justin rangking berapa ya? Takut jatuh, Bu.." Ya ampun, Justin..kamu bikin Ibu cemas terus.."Sabar ya, nilainya belum terkumpul semua," balas saya di WA nya. "Iya, Bu..deg-degan saya, Bu. Papa sama Mama sudah nanyain terus.." Duuh..

    Beberapa hari kemudian, keluarlah hasil PAS yang ditunggu-tunggu. Dengan bantuan Bu Nina di ruang TIK, leger nilai sudah dihasilkan. Di saat saya melihatnya, sebuah kejutan memaksa mata saya terbelalak lebar. Wah, Justin ada di peringkat pertama! Betapa senangnya saya. Seketika saya teringat Justin. Pasti dia sangat bahagia dengan kabar ini. Bukankah ini yang selalu dia idamkan. Dengan segera saya menghubungi Justin lewat WA. Saya memberitahukan kabar bagus itu padanya. Reaksinya sudah bisa ditebak. Kebahagiaan sangat terpancar dari komentar-komentarnya. Doanya sudah terkabul. Pasti orang tuanya juga sangat senang mendengarnya.

    Namun, kebahagiaannya harus tertunda. Ada kesalahan dalam penghitungan nilainya. Nilai yang didapat sebelumnya adalah rata-rata nilai Pengetahuan saja. Belum ditambah dengan nilai Keterampilan. Kenyataan ini membuat saya agak sedih dan bingung. Bagaimana cara saya menyampaikannya kepada Justin? Tapi, saya harus mengutarakan kebenarannya secepat mungkin. Ada rasa sesal di hati. Kenapa harus terburu-buru menginformasikannya. Walaupun nasi sudah menjadi lembek, masih ada waktu untuk memberitahukannya. Saya hubungi kembali WA nya dan menyatakan permintaan maaf atas kekeliruan yang sudah terjadi. Untungnya, Justin mau menerimanya dengan ikhlas. Saya masih memberikan dukungan padanya dengan mengucapkan, "I'm very proud of you!" Dia ada di urutan kedua setelah Nesya, dengan selisih angka yang sangat tipis. Saya terus menyemangatinya. Masih ada semester genap yang menanti kerja kerasmu, Justin. Dan dia berkata, "Siap, Ibu! Terima kasih atas bimbingan Ibu selama ini. Justin akan terus berusaha menjadi yang terbaik." 

    Itulah Justin Si Senyum Manis yang selalu galau dengan nilai-nilainya. Meskipun begitu, saya tetap bangga padanya. Justin yang tak pernah menyerah. Selalu giat belajar. Ingin selalu menjadi anak baik dan menjadi kebanggaan guru dan orang tuanya. Demi harapannya di masa depan. Mewarisi kegagahan dan keberanian ayahnya untuk membela negeri ini. Untuk menegakkan kebenaran di muka bumi. Untuk menjadi generasi penerus pembela tanah air. Semoga dapat menjadi contoh untuk teman-temanmu. Tetap semangat, Justin. Ibu doakan kelak cita-citamu tercapai. Jangan lupakan Ibu dan guru-gurumu yang lain. Dan yang terpenting, jangan lupakan Tuhanmu..

Sampai bertemu kembali di kisah berikutnya..

Pemulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMPN 2 Subang










Kamis, 04 Februari 2021

The Best App of the Month

Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi ( Part 4)

    Pagi itu, ketika saya sedang berdandan, bersiap-siap berangkat ke sekolah, tak sengaja mendengar anak perempuan saya sedang fokus mengikuti pembelajaran daring dengan gurunya. Kebetulan saat itu dia belajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Dan saya mengenal guru yang mengajarnya. Bedanya, kami mengajar di sekolah yang berlainan. Anak perempuan saya kelas IX. Jadi selalu saja ada hal baru yang saya dapatkan dari pembelajarannya. Dan seringnya, saya tergoda untuk menerapkannya di kelas.

    Seperti halnya saat itu. Saya mendengar keseruannya dengan guru dan teman-temannya dalam kelas virtual. Perkiraan saya mereka sedang bermain game.Waktu beranjak perlahan. Ketika saya hendak ke luar rumah, penasaran saya bertanya padanya, "Neng, lagi main apa?" Yang ditanya tak mau bergeming. Masih asyik dengan permainannya. Saya tanya lagi, "Neng, itu game ya?" Hmm..emang enak dicuekin. Seakan tak mau diganggu, sang gadis menjawab setengah hati, "Quizizz, Mah. Lagi rame nih.." O..jadi nama permainannya Quizizz, oke.. 

    Setelah mengetahui nama aplikasi yang dimaksud, rasa penasaran saya semakin menjadi. Sepertinya seru juga jika kami menggunakannya di kelas. Tak mau menunda lama, malamnya saya langsung browsing aplikasi game tersebut. Tak berapa lama, dengan mudah saya mendapatkan apa yang saya cari. Ya, apapun yang kita cari, Mbah Google selalu siap melayani. Di era milenial sekarang ini, Google tak ubahnya seperti seorang guru yang pintar, bahkan lebih pintar dari guru. Namun satu yang tidak dapat diberikan Google, pendidikan karakter bagi siswa.

    Dari pencarian tentang Quizizz, saya menemukan beberapa laman website yang berbeda. Salah satunya tentang perusahaan Quizizz. Laman ini menyebutkan bahwa Quiziz adalah sebuah perusahaan software kreativitas yang digunakan dalam kelas, kerja kelompok, review pre-test, ujian, tes unit, dan tes dadakan. Ini memungkinkan siswa dan guru untuk online pada waktu yang sama (Wikipedia).

    Laman yang lain, yang paling saya cari adalah tentang tutorial bagaimana membuat kuis interaktif menggunakan Quizizz. Bingo..inilah yang saya cari. Berikut tutorial yang saya dapatkan dari ahzaa.net: Pertama, masuk ke www.quizizz.com lalu Sign up. Kedua, untuk memudahkan, anda bisa memakai akun Google anda. Ketiga, pilihlah peran anda, apakah sebagai guru, siswa, orang tua atau lainnya. Keempat, lengkapi data anda. Kelima, isikan info kuis anda. Keenam, lengkapi modul-modul seperti pertanyaan, pilihan jawaban, dan jawaban yang benar. Tahap ketujuh, pilih Grade atau tingkatan, subjects atau mata pelajaran. Klik finish and create quiz. Anda dapat menampilkan kuis secara langsung atau untuk PR.

    Setelah saya berhasil memiliki akun Quizizz, segera saya buat kuis untuk diberikan kepada siswa pada kegiatan pembelajaran ketiga di semester ganjil. Awalnya, mereka belum menguasai permainannya. Mungkin hal ini disebabkan karena mereka baru mengetahuinya. Tetapi, yang membuat saya senang adalah sebagian besar siswa yang mengikuti kuis sangat antusias. Mereka semakin tertarik dengan game yang satu ini. Sebagai permulaan, saya hanya menyajikan lima buah pertanyaan saja. Hasilnya, belum begitu memuaskan. Namun saya anggap ini sebagai awal yang baik. Ke depannya, saya akan mencobanya lagi. 

    Media pembelajaran yang saya gunakan pada pembelajaran berikutnya adalah trio Whatsapp, Google Classroom, dan Quizizz. Saya menyebutnya "Trio Apps". Dan trio ini saya terapkan selama 4 kali pertemuan (1 bulan). Ada kepuasan tersendiri yang saya dapatkan dari penggunaan aplikasi Quizizz. Aplikasi berbasis web ini tidak mengharuskan siswa mengunduhnya terlebih dahulu. Yang siswa lakukan adalah cukup membuka tautan yang dibagikan oleh guru. Setelah bergabung, siswa kemudian siap mengerjakan kuis dan bersaing dengan temannya. Hal yang membuat game ini semakin seru adalah adanya time limit yang ditentukan oleh guru, sehingga mengharuskan siswa menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Dan banyak siswa telah dapat membuktikannya.

    Dari implementasi Quizizz selama 4 kali pertemuan, didapatkan hasil yang sangat menggembirakan. Ada peningkatan nilai yang diperoleh di setiap ulangan harian. Hal ini menunjukkan bahwa Quizizz telah berhasil meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris secara daring. Selanjutnya, data yang saya peroleh tentang Quizizz, saya gunakan untuk menulis Best Practice. Data yang ada saya perkuat dengan angket yang saya bagikan kepada siswa. Hasilnya, sekitar 96% siswa menyukai aplikasi game ini. Alasannya karena seru, menarik, dan menantang.

    Dari hasil angket tentang penggunaan Quizizz dalam pembelajaran, ada yang menarik untuk dipelajari. Sebagian besar siswa menyukai dan menginginkan Quizizz selalu disajikan di setiap pembelajaran. Namun, ada seorang siswa yang berbeda pendapat dengan yang lainnya. Sebut saja Nawawi. Dia menyatakan keberatannya jika Quizizz terus diterapkan. Hati saya terusik lagi. Ingin mengetahui lebih jauh tentang siswa yang satu ini.

    Dari seorang siswi, saya sering memanggilnya Kekey, diperoleh informasi bahwa Nawawi tak pernah mengikuti pembelajaran. Dan memang, dalam daftar hadir saya pun, kolomnya masih kosong, pertanda dia belum pernah hadir. Pada Kekey, saya memintanya untuk berbicara dan mengajak Nawawi ikut pembelajaran. Tetapi, jawabannya semakin membuat saya penasaran lagi. Kekey bilang, "Nawawi itu anaknya cepet marah, Bu. Saya sudah coba ngomong ke dia, tapi dianya ga mau terima. Malah marah-marah. Kan Kekey jadi takut. Tau ngga, Bu. Dia gaulnya sama anak-anak yang ga bener gitu..Makanya, Kekey takut. Sama Ibu aja ya?" Duh, bagaimana ini? Terpaksa deh, saya yang harus turun tangan sendiri.

    Hari berikutnya, saya coba menjapri Nawawi. Alhamdulillah, ada respon darinya. Setelah sedikit berbasa basi, kemudian saya menanyakan alasannya kenapa tidak pernah ikut pembelajaran dan tidak menyukai Quizizz. Alasan klasik diutarakannya. Dia mengatakan bahwa dia tidak mempunyai HP. Karena alasan itulah dia tidak bisa mengerjakan Quizizz. Makanya dia tidak menyukainya. Untuk alasan ini, saya hanya bisa menghela nafas panjang. Entah yang dia utarakan itu benar atau tidak. Berbohong atau tidak. Hanya Allah yang tahu. Yang jelas, saya harus berusaha supaya dia mau mengikuti pembelajaran.

    Sungguh di luar dugaan. Setelah saya membujuknya di WA untuk mengikuti pembelajaran daring, daftar hadirnya tak lagi kosong. Ada titik di sana. Pertanda dia mau mengikuti ajakan saya. Dan juga, pada penyajian Quizizz selanjutnya, ada namanya tercatat jelas. Puji syukur saya panjatkan kehadirat Illahi Rabbi. Hanya atas kehendak-Nya lah semua ini bisa terjadi. Ucapan terima kasih saya tuliskan di WA pribadinya. Terima kasih, Nawawi. Semoga terus semangat belajar dan dimudahkan dalam segala hal. Quizizz is the best App of the month.

Tunggu kisah selanjutnya...

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMPN 2 Subang







    


    


    

Selasa, 02 Februari 2021

Bu, Saya Ga Punya HP...


Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi (2)

Bab.2

Bu, Saya Ga Punya HP...

    Berdasarkan keputusan rapat dinas yang diadakan sebelum pelaksanaan PJJ, menyarankan agar setiap guru mata pelajaran menguasai teknologi digital yaitu WhatsappGoogle Classroom, dan Teamlink. Tak sabar rasanya untuk menerapkan ketiga aplikasi tersebut di kelas online dengan siswa. Jadwal mengajar saya adalah setiap hari Rabu, dari jam 8.00 hingga 11.00. Jam pertama untuk kelas IX dan jam kedua untuk kelas VIII.

    Pada pertemuan pertama saya coba menggunakan Teamlink. Alasannya adalah supaya saya dapat bertemu muka secara virtual dengan siswa. Teamlink saya pilih karena aplikasi ini free alias tak berbayar dalam waktu lebih dari 30 menit. Tidak seperti Zoom Meeting yang terbatas waktu gratisannya hanya untuk 30 menit saja. 

    "Oke, students..please join the virtual class by clicking the link that I shared", ketik saya di grup Whatsapp Bahasa Inggris kelas IX A, B, C, dan D. Tak lama kemudian, bunyi notifikasi bersahutan. Tandanya siswa minta diizinkan bergabung. Ada yang berhasil masuk. Ada juga yang masih kesulitan.

"Bu, ini gimana...?" tanya seorang siswa yang masih kesulitan untuk bergabung.

"Bu, kok saya ga bisa masuk terus?" tanya yang lain.

"Bu, kenapa saya keluar sendiri, padahal tadi sudah masuk?" Atau hanya

"Buu.."

 

      Hmm..ternyata sebagian besar dari mereka masih kesulitan dalam menggunakan aplikasi ini. Entah karena sinyal internet yang buruk, atau bisa juga kuota belajar yang tidak mencukupi. Apalagi untuk penggunaan sebuah aplikasi virtual meeting memerlukan kuota yang lumayan besar. Kesimpulannya, Teamlink kurang efektif untuk kelas yang saya ampu dan tidak dapat digunakan untuk pertemuan berikutnya.

    Selanjutnya, saya putuskan memakai aplikasi Google Classroom dan Whatsapp. Alhamdulillah, proses pembelajaran berjalan lebih kondusif  dan efektif. Siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah. Namun, masalah baru muncul. Setelah beberapa kali pertemuan, masih ada siswa yang belum pernah ikut bergabung dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang saya ampu. Terdapat sekira 6 orang siswa dari kelas IX yang berbeda. 

    Di kelas IX C, di mana saya adalah wali kelasnya, ada Haidar, Yusuf, dan Akmal. Ketiga siswa tersebut seakan menghilang dan tak mau mengikuti pembelajaran. Anehnya, mereka bertiga sangat aktif membuat status di WA. Sebagai contohnya Akmal, dia sangat rajin memposting kegiatan malamnya dengan teman-teman di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin ini yang menyebabkan dia tidak bisa ikut belajar di siang harinya. Dari rasa khawatir dan penasaran akan kondisinya, saya coba menghubunginya. Setiap kali dihubungi, pasti jawabannya "Iya Bu, maaf.." atau "Akmal janji Bu nanti ikutan PJJ". Dan hasilnya, masih kurang memuaskan. Pernah beberapa kali Akmal ikut belajar, tapi seringnya tidak pernah mengerti apa yang sedang dipelajari. Kemudian dia pun menghilang lagi.

    Di hari berikutnya, saya mendapat kabar bahwa Akmal akan memperoleh bantuan dari pemerintah untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ketika kabar itu sampai ke keluarganya, dengan cepat mereka meresponnya. Dalam hati saya bergumam, "Giliran mau dapat uang mah langsung nyamber". Tapi yah, apa mau dikata. Mungkin kondisi mereka yang menyebabkan bersikap seperti itu.

    Saya berpikir, inilah saatnya saya dapat berkomunikasi langsung dengan Akmal dan keluarganya. Dan saat itu pun tiba. Saya ditelepon oleh guru BK kelas IX, Bu Lyta, untuk datang ke sekolah dan bertemu dengan Akmal. Ya, pertemuan saya dengan Akmal untuk pertama kalinya. Karena pandemi, sejak awal pertemuan saya belum pernah melihat wajahnya. Sesaat saya memandanginya diam-diam. Rambut agak gondrong, kusut, dan diwarnai merah di bagian atasnya. Seakan hendak berkata "saya ingin dicukur". Apa daya, sang pemilik rambut tidak mau mengerti. Kaos dan celana panjang lusuh seadanya. Memakai sandal jepit yang sudah tua pula. Menandakan bahwa dia memang dari keluarga kaum marginal yang kurang perhatian. Di samping Akmal, ada kakeknya yang menemani pengurusan bantuan. Tak jauh berbeda dengan cucunya, sang kakek berpakaian lusuh, tak kenal setrikaan, apalagi wangi Molto. Sebelah kakinya pincang. Mereka siap diinterogasi.

    "Hai Akmal, apa kabar?" sapa saya memulai percakapan. Sekilas wajahnya tertunduk, mungkin malu.

"Baik, Bu.." jawabnya. Lalu saya bertanya lagi, " Akmal kemana aja selama ini? Kok ga pernah ikutan daring lagi?" Kulihat dia semakin tertunduk lesu, seperti yang belum makan dari pagi. Tak berapa lama, orang tua di sebelahnya menimpali.

"Maaf Bu, saya kakeknya Akmal. Punteen pisan..kalau selama ini Akmal suka bikin masalah. Padahal sudah saya suruh ikutan belajar tapi ya gitu, susah pisan diurusna, Bu.." kata sang kakek dalam logat Sundanya, sambil merapatkan kedua tangannya di dada, tanda meminta maaf atas perilaku cucunya. Percakapan pun terus berlangsung. Bu Lyta tak kalah gesitnya dalam melontarkan pertanyaan. Setelah ditanya berkali-kali, akhirnya Akmal berkata, "Saya ga punya HP, Bu.." Lah, terus yang selama ini sering posting status di WA siapa? "Itu adik saya, Bu." 

    Setelah pertemuan dengan Akmal dan kakeknya, kesepakatan pun kami peroleh. Akmal dan kakeknya setuju untuk menggunakan uang bantuan pemerintah sebesar 750 ribu rupiah untuk membeli HP baru. Saya dan Bu Lyta merasa lega dengan keputusan itu. Kami berharap, semoga ke depannya Akmal dapat menggunakan HP barunya untuk belajar daring dan mengerjakan tugas-tugas. Semangat Akmal..

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMPN 2 Subang



                        
    

Senin, 01 Februari 2021

Pertemuan di Awal Tahun Ajaran Baru

 KUMPULAN KISAH KAMI DI MASA PANDEMI (PART 1)

Tulisan ini adalah kumpulan kisah siswa-siswi kami selama pelaksanaan PJJ di masa pandemi Covid-19. Kisah penuh intrik dan menarik untuk dibaca. Semoga kisah ini akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan untuk kami khususnya, keluarga besar SMP Negeri 2 Subang. Dan menjadi gambaran umum tentang pembelajaran di masa Corona, yang mungkin terjadi di sekolah anda juga. Berikut kisahnya:

     Hari ini adalah awal tahun ajaran baru. Tak seperti biasanya, pertemuan awal kami terasa agak kaku dan mengkhawatirkan. Kaku, karena siswa memakai seragam bukan hanya baju atasan berwarna putih dan rok atau celana berwarna biru, sepatu hitam, beserta topi sekolah. Kali ini, mereka datang dilengkapi dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Hampir kami para guru tak mengenali wajah mereka satu per satu. Kekakuan semakin bertambah karena kami harus menjaga jarak satu sama lain. Tak ada lagi salam-salaman dan berpeluk ria. Siswa tak boleh lagi mencium tangan gurunya. Begitu juga guru dengan rekan-rekannya. Hanya salam tangan menempel di dada yang masih diperbolehkan. Belum lagi, ritual mencuci tangan dengan sabun di air mengalir atau wastafel yang tersedia. Sesaat ada rasa sedih yang menyergap hati melihat pemandangan ini. Dalam sekejap, kebiasaan lama berubah menjadi kebiasaan baru dengan tata cara yang disebut protokol kesehatan. Semua itu dilakukan semenjak adanya virus Covid-19. Virus ganas yang berasal dari Wuhan, Cina dan secepat kilat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dan kondisi ini telah mengkhawatirkan kami semua. Khawatir akan tertular penyakit yang mematikan itu.

    Setelah memanggil nama-nama siswa yang masuk ke dalam kelas asuhan saya, kelas IX C, mereka pun masuk ke kelas dan duduk agak berjauhan dengan yang lainnya. Pihak sekolah sudah menetapkan aturan tentang pembagian kelas beberapa hari sebelumnya. Dari jumlah 36 siswa dibagi dua gelombang. Gelombang pertama mulai jam 8.00 hingga 10.00 pagi. Sedangkan gelombang kedua dari jam 10.00 sampai 12.00 siang. Tiap gelombang terdiri dari setengah jumlah siswa keseluruhan yaitu 18 orang. Kami melakukannya untuk menjaga jarak, sesuai dengan aturan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Saya hampir tak mengenali mereka, setelah lama tidak berjumpa. Dan sekarang, wajah mereka tertutup masker. Semakin asing saja buat saya. Hanya beberapa siswa saja yang masih bisa saya kenali. Mungkin karena saya pernah mengajar atau menjadi wali kelas mereka ketika duduk di kelas VIII. Sisanya membuat saya jadi pusing mengingat-ingat kembali. Wajah-wajah baru yang sebenarnya sudah lama sekolah di SMP ini.

    Suasana kelas serasa di kuburan. Senyap, tak seramai biasanya. Semua siswa diam membisu. Hanya suara saya saja yang lantang terdengar walaupun tertutup masker. Suara tiap siswa terdengar hanya jika dipanggil oleh saya, atau menjawab pertanyaan sederhana yang saya lontarkan. Betapa kakunya pertemuan itu. Dan suasana seperti itu berulang di gelombang kedua. Sama persis senyap dan kakunya. Untuk menghilangkan kekakuan, saya ajak mereka bercerita tentang keluarga, tempat tinggalnya, dan keseharian mereka. Hal terakhir yang disampaikan adalah rencana pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang merupakan hal baru bagi kami semua. Dengan harapan pembelajaran baru ini dapat diterima dan menjadi pengalaman yang berharga dan bermakna buat kami guru dan siswa.

    Setelah siswa bertatap muka di kelas dengan wali kelasnya, mereka disarankan untuk mengambil buku paket di perpustakaan. Begitu banyak buku yang mereka pinjam. Jangan tanya beratnya. Karena dari tas gendong yang mereka panggul, saya sudah mengetahui bebannya. 

    Kami mengakhiri pertemuan awal dengan foto bersama. Masih tetap bermasker tapi tak bisa menjaga jarak, karena tuntutan agar semua siswa terbawa dalam fotonya. Setidaknya kami masih punya semangat untuk belajar dalam keterbatasan karena pandemi ini. Semangat yang terpancar dari foto kami saat mengepalkan tangan tanda tak ingin menyerah. Pembelajaran harus tetap dilaksanakan, walau tak bisa bertatap muka di kelas seperti yang dulu dilakukan. Kelas dengan sejuta kenangan. Kelas yang untuk 8 bulan ke depan akan menjadi tempat yang sangat dirindukan. 

Tunggu kami di kisah selanjutnya..

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMP Negeri 2 Subang, Jawa Barat


Guru "Smart", Guru Pemberdaya

  "Pendidikan akan menghasilkan tiga guna yang luar biasa yang dinamakan Tri Rahayu : Hamemayu Hayuning Sarirom, Hamemayu Hayuning Bong...